Meneropong "Love Languages" Melalui Lensa Ilmiah: Sebuah Opini Inspiratif

  • admin
  • Senin, 10 Juni 2024 10:07
  • 12 Lihat
  • Opinion

Dalam dunia psikologi populer, teori "Love Languages" karya Gary Chapman telah menjadi semacam buku panduan bagi pasangan yang ingin memperbaiki hubungan mereka. Dengan popularitas yang luar biasa, buku ini telah terjual lebih dari 20 juta kopi dan diterjemahkan ke dalam 50 bahasa. Namun, di balik gemerlap ketenarannya, teori ini kurang mendapat dukungan empiris dari kalangan ilmuwan hubungan. Artikel ini akan mengevaluasi teori Love Languages dari sudut pandang ilmiah, mengungkap alasan popularitasnya, serta mengusulkan metafora alternatif yang lebih sesuai dengan temuan empiris.

Chapman mengemukakan tiga asumsi utama: pertama, setiap orang memiliki bahasa cinta utama yang dominan; kedua, ada lima bahasa cinta: kata-kata afirmasi, waktu berkualitas, menerima hadiah, tindakan pelayanan, dan sentuhan fisik; ketiga, masalah hubungan seringkali disebabkan oleh pasangan yang berbicara bahasa cinta yang berbeda. Meskipun teori ini sangat menarik, penelitian empiris menunjukkan bahwa konsep ini tidak sepenuhnya akurat.

Chapman berpendapat bahwa setiap individu memiliki satu bahasa cinta utama yang paling sering digunakan untuk mengekspresikan dan merasakan cinta. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan orang menganggap semua lima bahasa cinta sebagai cara yang berarti untuk mengekspresikan cinta dan merasa dicintai. Surijah et al. (2020) menemukan bahwa orang cenderung memberikan skor tinggi untuk semua bahasa cinta, bukan hanya satu. 

Penelitian juga menunjukkan bahwa lima bahasa cinta tidak selalu menjadi cara yang paling tepat untuk menggambarkan cara orang mengekspresikan cinta. Egbert dan Polk (2006) menemukan bahwa ada korelasi yang signifikan antara semua bahasa cinta, menunjukkan bahwa orang tidak hanya memiliki satu bahasa utama. Selain itu, beberapa penelitian telah mengidentifikasi struktur faktor yang berbeda dari lima bahasa cinta yang diusulkan oleh Chapman.

Chapman berargumen bahwa pasangan yang berbicara bahasa cinta yang sama akan lebih bahagia. Namun, penelitian tidak menemukan bukti kuat bahwa pasangan yang cocok dalam bahasa cinta mereka melaporkan kepuasan hubungan yang lebih tinggi. Bland dan McQueen (2018) menemukan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara kesesuaian bahasa cinta dan kepuasan hubungan.

Meskipun kekurangan dukungan empiris, teori Love Languages tetap populer. Ada beberapa alasan mengapa teori ini begitu menarik bagi masyarakat umum. Pertama, teori ini menawarkan cara yang mudah dan intuitif untuk merenungkan dan mendiskusikan kebutuhan dalam hubungan. Chapman memberikan alat diagnostik sederhana berupa kuis, yang memungkinkan individu untuk mengidentifikasi bahasa cinta mereka.

Kedua, metafora bahasa cinta sangat mudah dipahami dan diterima oleh orang awam. Metafora ini membantu orang memahami dan mengkomunikasikan kebutuhan mereka dengan cara yang sederhana dan langsung. Namun, seperti banyak teori populer lainnya, kesederhanaan ini juga bisa menyesatkan, menyederhanakan proses hubungan yang kompleks menjadi sesuatu yang terlalu mudah.

Jika kita serius ingin menjembatani kesenjangan antara teori populer dan ilmu hubungan, kita perlu metafora yang lebih akurat. Sebagai alternatif, kita bisa menggambarkan cinta seperti diet yang seimbang. Sama seperti tubuh kita membutuhkan berbagai nutrisi untuk tetap sehat, hubungan kita juga membutuhkan berbagai bentuk ekspresi cinta untuk tetap kuat.

Misalnya, hubungan yang sehat memerlukan waktu berkualitas bersama (Aron et al., 2022), apresiasi melalui kata-kata afirmasi (Algoe, 2012), kasih sayang fisik (Jakubiak & Feeney, 2019), dukungan dalam bentuk tindakan (Feeney & Collins, 2015), dan perasaan istimewa yang mungkin diberikan melalui hadiah (Komiya et al., 2019).

Tidak semua ekspresi cinta ini akan sama pentingnya bagi setiap orang atau dalam setiap situasi. Seperti halnya seorang pelari maraton membutuhkan lebih banyak karbohidrat, seseorang mungkin memerlukan lebih banyak kasih sayang fisik selama masa stres (Jakubiak & Feeney, 2019). Begitu pula, seseorang dengan insekuritas hubungan yang kronis mungkin mendapatkan manfaat lebih besar dari ekspresi apresiasi dari pasangannya (Park et al., 2019).

Meskipun teori populer seperti Love Languages menarik perhatian publik, penelitian empiris menunjukkan bahwa hubungan yang sukses memerlukan pemahaman yang komprehensif tentang kebutuhan satu sama lain dan upaya untuk merespons kebutuhan tersebut (Ogolsky et al., 2017). Sebagai ilmuwan hubungan, kita harus berusaha untuk mengomunikasikan temuan-temuan kita dengan cara yang mudah dipahami namun tetap akurat. Ini bisa dilakukan dengan pelatihan dalam penyebaran pengetahuan dan insentif untuk upaya komunikasi publik.

Sebagai penutup, mari kita renungkan metafora ini: hubungan yang sehat dan memuaskan ibarat kebun bunga yang memerlukan berbagai jenis tanaman untuk mekar indah. Setiap jenis bunga, dengan keunikan dan kebutuhannya masing-masing, berkontribusi pada keindahan keseluruhan. Demikian juga, dalam hubungan, berbagai bentuk ekspresi cinta diperlukan untuk menciptakan hubungan yang indah dan memuaskan. Jadi, mari kita pastikan kebun kita selalu mendapatkan berbagai macam cinta, seperti kebun bunga yang penuh warna dan harum.